Tahun 2006, ketika istriku pulang
dari dinas di shanghai membawa oleh-oleh sekeping DVD berisi drama tv
jepang. Dia bilang, ini termasuk jajaran atas drama tv di jepang. Ah…
paling gak jauh dari cerita seperti long vacation.
Beberapa malam kemudian, setelah
anak perempuanku tidur, kami menonton bersama. Seperti biasa istriku selelu
bercerita pada saat menonton, "A, tau gak walau film ini berbahasa jepang
dan tdk ada teks bahasa Indonesianya (emang belinya di shanghai) si A
(salah satu teman istriku yang ikut juga ke shanghai dan tidak bisa berbahasa
Jepang) bisa sampe nangis". Makin penasaran lah aku tonton.
Chapter pertama..... Chapter kedua...... Sampai chapter ke enam (setengah
cerita) mataku mulai tak tahan menahan beratnya
air mata, tapi untung istriku sudah tertidur pulas disampingku. (gak tengsin
jadinya hehehe....)
Aku jadi teringat, di tahun 1999
ketika mendapat kesempatan untuk belajar di negeri sakura. Suatu ketika ibu
angkat temanku meminta tolong, ada seorang wanita sakit (kira-kira berumur 25
tahun) dan sudah sekarat ingin ke gunung Fuji sbg permintaan terakhirnya. Karena
kondisinya tidak memungkinkan untuk berjalan, jadi aku bersama 2 temanku
bergantian menggendong wanita tersebut mendaki gunung fuji. Walaupun hanya mendaki 1 level tenaga
kami cukup terkuras, karena mendaki pasir vulkanik.
Setelah sampai, kami pun menggendong
kembali untuk turun ke bawah. kemudian kami makan bersama (seperti dalam film
shinchan), sambil jeprat-jepret foto, kulihat betapa bahagia raut wajahnya,
walau saraf motoriknya hanya tinggal beberapa persen saja yang tertinggal
untuk mengontrol gerak seluruh tubuhnya. Perasaan puas menjalar dalam tubuh,
Terima Kasih Tuhan, Hari ini kami bisa mewujudkan mimpi seseorang.
Dibalik cerita ini, sebenarnya
aku belum tahu sesungguhnya sakit apa yang wanita ini derita, maklum
aku baru beberapa bulan di Jepang, dan belum mengetahui bahasa spesifik
kedokteran. tapi secara nalar ibu angkat temanku bercerita bahwa wanita ini
menurun tingkat kontrol saraf motoriknya.
Setelah menonton film itu dan
browse internet aku baru tahu apa penyakit tersebut. Spinocerebellar Degeneration (http://www.ninds.nih.gov/disorders/ataxia/ataxia.htm) nama
penyakitnya. Dan tidak ada atau belum ada obatnya.
Ironisnya film diangkat dari
diary wanita tersebut dengan judul “Just being alive is such
a lovely and wonderful thing.” yang laku terjual 18 juta copy sejak kematiannya.
Ternyata judul bukunya jadi kenyataan bagi keluarga yang
ditinggalkannya (mungkin......)
Belum selesai....... beberapa
bulan kemudian, kala jemari menari di remote tv. "Catatan Harian
Naila" begitulah tulisan judul sinetron di salah satu stasiun tv nasional
qta. Isinya nyontek abis nih film, sungguh gak ada kretifitas.
(sebenarnya foto pada saat makan
masih ku simpan, tapi masih dalam bentuk 35mm film, belum digital, jadi belum
di scan. Suatu saat nanti akan aku scan dan publish)
"Seseorang yang masih
merasa beruntung"
Gambar: dari berbagai sumber
Gambar: dari berbagai sumber

No comments:
Post a Comment