Thursday, January 3, 2013

1 liter air mata



Tahun 2006, ketika istriku pulang dari dinas di shanghai membawa oleh-oleh sekeping DVD berisi drama tv jepang. Dia bilang, ini termasuk jajaran atas drama tv di jepang. Ah… paling gak jauh dari cerita seperti long vacation.

Beberapa malam kemudian, setelah anak perempuanku tidur, kami menonton bersama. Seperti biasa istriku selelu bercerita pada saat menonton, "A, tau gak walau film ini berbahasa jepang dan tdk ada teks bahasa Indonesianya (emang belinya di shanghai) si A (salah satu teman istriku yang ikut juga ke shanghai dan tidak bisa berbahasa Jepang)  bisa sampe nangis". Makin penasaran lah aku tonton. Chapter pertama..... Chapter kedua...... Sampai chapter ke enam (setengah cerita) mataku mulai tak tahan menahan beratnya air mata, tapi untung istriku sudah tertidur pulas disampingku. (gak tengsin jadinya hehehe....)

Aku jadi teringat, di tahun 1999 ketika mendapat kesempatan untuk belajar di negeri sakura. Suatu ketika ibu angkat temanku meminta tolong, ada seorang wanita sakit (kira-kira berumur 25 tahun) dan sudah sekarat ingin ke gunung Fuji sbg permintaan terakhirnya. Karena kondisinya tidak memungkinkan untuk berjalan, jadi aku bersama 2 temanku bergantian menggendong wanita tersebut mendaki gunung fuji. Walaupun hanya mendaki 1 level tenaga kami cukup terkuras, karena mendaki pasir vulkanik.

Setelah sampai, kami pun menggendong kembali untuk turun ke bawah. kemudian kami makan bersama (seperti dalam film shinchan), sambil jeprat-jepret foto, kulihat betapa bahagia raut wajahnya, walau saraf motoriknya hanya tinggal beberapa persen saja yang tertinggal untuk mengontrol gerak seluruh tubuhnya. Perasaan puas menjalar dalam tubuh, Terima Kasih Tuhan, Hari ini kami bisa mewujudkan mimpi seseorang.

Dibalik cerita ini, sebenarnya aku belum tahu sesungguhnya sakit apa yang wanita ini derita, maklum aku baru beberapa bulan di Jepang, dan belum mengetahui bahasa spesifik kedokteran. tapi secara nalar ibu angkat temanku bercerita bahwa wanita ini menurun tingkat kontrol saraf motoriknya.
Setelah menonton film itu dan browse internet aku baru tahu apa penyakit tersebut. Spinocerebellar Degeneration (http://www.ninds.nih.gov/disorders/ataxia/ataxia.htm) nama penyakitnya. Dan tidak ada atau belum ada obatnya.

Ironisnya film diangkat dari diary wanita tersebut dengan judul “Just being alive is such a lovely and wonderful thing.” yang laku terjual 18 juta copy sejak kematiannya. Ternyata judul bukunya jadi kenyataan bagi keluarga yang ditinggalkannya (mungkin......)

Belum selesai....... beberapa bulan kemudian, kala jemari menari di remote tv. "Catatan Harian Naila" begitulah tulisan judul sinetron di salah satu stasiun tv nasional qta. Isinya nyontek abis nih film, sungguh gak ada kretifitas.

(sebenarnya foto pada saat makan masih ku simpan, tapi masih dalam bentuk 35mm film, belum digital, jadi belum di scan. Suatu saat nanti akan aku scan dan publish)
                                                                                               
"Seseorang yang masih merasa beruntung"

Gambar: dari berbagai sumber

No comments:

Post a Comment