Sunday, March 10, 2013

Emas, Perak dan Rupiah




“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberinya satu dinar untuk membeli seekor kambing, lalu ia membeli untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dua kambing dengan uang tersebut. Maka ia jual seekor dengan harga satu dinar dan membawa satu ekor kambing dan satu dinar kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendo’akannya dengan barokah : “Dia (Urwah ini), seandainya membeli debu tentu akan untung juga”

Jika kita perhatikan hadis riwayat tesebut diatas, pada jaman Nabi Muhammad 1 dinar = 1 ekor kambing. Pada saat ini pun harga rata-rata 1 ekor kambing 1 dinar = Rp. 2.175.000,- (harga 08/03/2013).

Bayangkan jika anda dapat warisan 10 dinar koin emas turun temurun dari kakek anda, tetap saat ini anda bisa membeli 10 ekor kambing. Dan yang pasti sama jelasnya, kakek anda jelas sudah terpikir 10 dinar koin emas bisa untuk membeli 10 ekor kambing dan saat ini anda pun jelas terbayang 10 dinar warisan ini bisa beli 10 ekor kambing. atau mau di wariskan kembali ke anak cucu anda, tetap sama jelasnya, 10 dinar koin emas = 10 ekor kambing, hebat kan....

Jadi jika tolak ukurnya dengan emas, tidak ada perubahan harga kambing sejak ratusan tahun yang lampau. Everybody happy, dari peternak, penjual hingga pembeli.

Tapi mengapa harga emas terhadap rupiah terus bergerak naik?

Bukan harga emas yang naik tapi harga rupiah yang turun karena rupiah di patok dengan nilai dolar amerika, coba dipatok dengan nilai emas dunia, pasti akan sama terus. Mengapa? karena pemerintah mencetak uang berdasarkan simpanan emas yang mereka punya, jadi gak akan turun dan gak akan naik.

Terus mengapa kita masih memakai uang kertas?

Indonesia menjadi anggota IMF sejak 21 Febuari 1967. Negara kita terkait banyak hal dengan IMF termasuk diantaranya tidak diijinkan untuk mengaktifkan nilai tukar rupiah dengan emas (Article 4, section 2.b).

Article IV: Obligations Regarding Exchange Arrangements
Section 2. General exchange arrangements
(a)......
(b) Under an international monetary system of the kind prevailing on January 1, 1976, exchange arrangements may include (i) the maintenance by a member of a value for its currency in terms of the special drawing right or another denominator, other than gold, selected by the member, or (ii) cooperative arrangements by which members maintain the value of their currencies in relation to the value of the currency or currencies of other members, or (iii) other exchange arrangements of a member’s choice.
(c) ......

Menurut Dick Ware, mantan pejabat IMF yang saat ini bekerja pada World Gold Council, pelarangan ini jelas-jelas merugikan negara-negara berkembang yang memiliki sumber emas tersendiri dalam jumlah besar seperti Indonesia.

Kenapa bisa begini? Anda bisa mencari jawaban dan kesimpulannya sendiri hehehehe....

Jadi kalau anda berniat menabung silahkan beli emas dan perak, karena rata-rata kenaikan terhadapp rupiah per tahunnya 20-30% masih jauh diatas nilai inflasi sebesar 7-10%. 
Tapi, bukan berarti dengan menabung emas anda semakin kaya. Dengan menabung emas anda tetap kaya. Karena emas dan perak disebut full money bodied merupakan mata uang intrinsik yang artinya nilai bahan yang dikandungnya sama dengan nilai nominalnya dan nilainya tidak terpengaruh oleh inflasi negara manapun.
Emas dan Perak pun sangat liquid artinya kapanpun anda butuh uang, jual emasnya dan saat itu juga emas anda berubah jadi uang kemudian uangnya bisa dipergunakan sesuai kebutuhan anda. 

Saya membaca di web sebuah rumus untuk menghitung nilai masa depan uang;
Future Value (nilai masa depan)
Untuk menghitung FV bisa menggunakan fungsi fv() yang ada dimicrosoft excel. Ada lima parameter yang ada dalam fungsi fv(), yaitu :
- Rate, tingkat suku bunga pada periode tertentu bisa per bulan ataupun per tahun.
- Nper, jumlah angsuran yang dilakukan
- Pmt, besar angsuran yang dibayarkan.
- Pv, nilai saat ini yang akan dihitung nilai akan datangnya.
- Type, jika bernilai 1 pembayaran dilakukan diawal periode, jika bernilai 0 pembayaran dilakukan diakhir periode.

FV(rate,nper,pmt,pv,type)

Contoh :
Biaya masuk perguruan tinggi saat ini adalah Rp. 50,000,000.00 berapa biaya masuk perguruan tinggi 20 tahun yang akan datang, dengan asumsi pemerintah mampu mempertahankan inflasi satu digit, misal 8% per tahun, dengan menggunakan fungsi fv(), masukkan nilai untuk parameter-parameter yang ada sebagai berikut :

FV(8%,20,-0,-50000000,0)

Rate = 8%
Nper = 20
Pmt = 0, tidak ada angsuran yang dikeluarkan tiap tahunnya
Pv = -50000000, minus sebagai tanda cashflow bahwa kita mengeluarkan uang
Type = 0

Dari masukan diatas maka akan didapat nilai yang dibutuhkan untuk biaya masuk perguruan tinggi 20 tahun kemudian adalah Rp. 233,047,857.19

Sekarang kita coba konversikan lewat harga emas ya; 

Tanggal 8 maret 2013 harga emas batangan antam 1 gram 24 karat Rp. 580.200.00
Rp. 50,000,000.00 = 86,2 gram emas 24 karat

Kita ambil kenaikan emas 25% per tahun nya maka dalam kurun waktu 20 tahun ke depan harga emas terhadap rupiah akan naik sampai 500%, maka;

Tanggal 8 maret 2033 harga emas batangan 1 gram 24 karat Rp. 2,901,000.00
86,2 gram emas 24 karat = Rp. 250,066,200.00


Nilai nya masih lebih besar dari kebutuhan nilai masa depan biaya masuk perguruan tinggi bukan? Mari menabung di emas dan perak

Tapi jangan lupa, bagi anda yang muslim jika simpanan emas dan perak anda sudah 1 tahun wajib dikeluarkan zakatnya, dengan perhitungan nisab dibawah ini:

1 Dinar   = 4,25   gram emas 22 karat = Rp. 2.175.000,- (harga 08/03/2013)
Nisab Emas 20 X 4,25 = 85 gram
Maka barang siapa memiliki emas baik dalam bentuk uang maupun leburan logam setimbang 85 gram dengan haul selama 1 tahun wajib baginya mengeluarkan 2,5%

1 Dirham = 2,975 gram perak = Rp. 73.788,- (harga 08/03/2013)
Nisab Perak 200 X 2,975 = 595 gram
Maka barang siapa memiliki perak murni baik dalam bentuk uang maupun leburan logam setimbang 595 gram dengan haul selama 1 tahun wajib baginya mengeluarkan 2,5%


Semoga bermanfaat

Gambar dan data dari berbagai sumber
contoh perhitungan dari http://www.adibmubarrok.com/2008/06/future-value-dan-present-value/

Monday, January 7, 2013

2% Crowding


Pakar kewirausahawan Amerika, David McClelland menyatakan bahwa suatu bangsa bisa disebut makmur bila jumlah entreprenuer atau pengusaha paling sedikit 2% dari total jumlah penduduknya. Jika Jumlah penduduk Indonesia menurut BPS th 2010 sebesar 237,641,326 jiwa, maka 2% dari jumlah tersebut adalah 4,752,826 jiwa. Sementara jumlah pengusaha di Indonesia menurut Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta kepada tempo.co baru sekitar 400,000 jiwa yaitu sebesar 0,17% dari total penduduk Indonesia, bandingkan dengan negara tetangga kita Singapura, 7% dari total penduduknya adalah pengusaha atau entrepreneur, dan lihat negaranya. Belum lagi Jepang 10% atau Amerika yang 11,5% dan sekali lagi, lihat negaranya.
 
Coba bayangkan, negara ini mempunyai 17.508 pulau dengan luas 1.9 juta mil persegi baru mempunyai 400,000 entrepreneur. Artinya masih banyak tempat tersedia, masih ada 4,352,826 tempat pertama yang dapat diisi menjadi 2% syarat bangsa yang makmur. Tempat yang bergengsi, karena menjadi bagian dari perputaran ekonomi bangsa yang makmur. 

Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Raja Sapta Oktohari pernah mengungkapkan di media, masih banyak permasalahan klasik yang menjadi penghambat perkembangan dunia kewirausahaan. Salah satunya adalah akses permodalan yang sulit. 
 
Dan salah satu akses permodalan adalah BANK,  tapi dengan sistem kapitalisnya yang sudah lama berakar mungkin akan susah merubah sistem tersebut.

Selain itu, saya setuju dengan salah satu pembicara masalah otak kanan bahwa masalah utamanya pada pola pikir sebagian besar masyarakat Indonesia dan kurikulum pendidikan yang sangat tidak support dengan jiwa entreprenuer atau pengusaha. 

Jadi rubahlah pola pikir diri sendiri jika ingin ikut serta memakmurkan bangsa ini, persiapkan pendidikan dalam keluarga untuk anak agar kelak bisa langsung terjun di dunia entrepreneur.

Yang terbaik itu masih menjadi bagian yang kecil, jadilah bagian kecil tersebut, sehingga walau sedikit tapi semakin banyak jumlahnya.

Gambar dan data: berbagai sumber

Thursday, January 3, 2013

1 liter air mata



Tahun 2006, ketika istriku pulang dari dinas di shanghai membawa oleh-oleh sekeping DVD berisi drama tv jepang. Dia bilang, ini termasuk jajaran atas drama tv di jepang. Ah… paling gak jauh dari cerita seperti long vacation.

Beberapa malam kemudian, setelah anak perempuanku tidur, kami menonton bersama. Seperti biasa istriku selelu bercerita pada saat menonton, "A, tau gak walau film ini berbahasa jepang dan tdk ada teks bahasa Indonesianya (emang belinya di shanghai) si A (salah satu teman istriku yang ikut juga ke shanghai dan tidak bisa berbahasa Jepang)  bisa sampe nangis". Makin penasaran lah aku tonton. Chapter pertama..... Chapter kedua...... Sampai chapter ke enam (setengah cerita) mataku mulai tak tahan menahan beratnya air mata, tapi untung istriku sudah tertidur pulas disampingku. (gak tengsin jadinya hehehe....)

Aku jadi teringat, di tahun 1999 ketika mendapat kesempatan untuk belajar di negeri sakura. Suatu ketika ibu angkat temanku meminta tolong, ada seorang wanita sakit (kira-kira berumur 25 tahun) dan sudah sekarat ingin ke gunung Fuji sbg permintaan terakhirnya. Karena kondisinya tidak memungkinkan untuk berjalan, jadi aku bersama 2 temanku bergantian menggendong wanita tersebut mendaki gunung fuji. Walaupun hanya mendaki 1 level tenaga kami cukup terkuras, karena mendaki pasir vulkanik.

Setelah sampai, kami pun menggendong kembali untuk turun ke bawah. kemudian kami makan bersama (seperti dalam film shinchan), sambil jeprat-jepret foto, kulihat betapa bahagia raut wajahnya, walau saraf motoriknya hanya tinggal beberapa persen saja yang tertinggal untuk mengontrol gerak seluruh tubuhnya. Perasaan puas menjalar dalam tubuh, Terima Kasih Tuhan, Hari ini kami bisa mewujudkan mimpi seseorang.

Dibalik cerita ini, sebenarnya aku belum tahu sesungguhnya sakit apa yang wanita ini derita, maklum aku baru beberapa bulan di Jepang, dan belum mengetahui bahasa spesifik kedokteran. tapi secara nalar ibu angkat temanku bercerita bahwa wanita ini menurun tingkat kontrol saraf motoriknya.
Setelah menonton film itu dan browse internet aku baru tahu apa penyakit tersebut. Spinocerebellar Degeneration (http://www.ninds.nih.gov/disorders/ataxia/ataxia.htm) nama penyakitnya. Dan tidak ada atau belum ada obatnya.

Ironisnya film diangkat dari diary wanita tersebut dengan judul “Just being alive is such a lovely and wonderful thing.” yang laku terjual 18 juta copy sejak kematiannya. Ternyata judul bukunya jadi kenyataan bagi keluarga yang ditinggalkannya (mungkin......)

Belum selesai....... beberapa bulan kemudian, kala jemari menari di remote tv. "Catatan Harian Naila" begitulah tulisan judul sinetron di salah satu stasiun tv nasional qta. Isinya nyontek abis nih film, sungguh gak ada kretifitas.

(sebenarnya foto pada saat makan masih ku simpan, tapi masih dalam bentuk 35mm film, belum digital, jadi belum di scan. Suatu saat nanti akan aku scan dan publish)
                                                                                               
"Seseorang yang masih merasa beruntung"

Gambar: dari berbagai sumber

Apa kabar kereta apiku....?


Suatu perbincangan dengan seseorang warga jepang (sebut saja pak Tanaka) dalam suatu pertemuan di kota shizuoka, Jepang tahun 1999:

Penulis             : Pak Tanaka bekerja dimana?
Tanaka            : Oh… Saya bekerja di salah satu organisasi UN (PBB) di Tokyo.

Penulis             : Sedang liburan di kota Shizuoka ini?
Tanaka            : Oh Tidak….. Saya memang tinggal disini

Penulis             : Setiap hari pergi pulang Shizuoka-Tokyo untuk bekerja?
Tanaka            : Ya, setiap hari saya memakai Shinkansen Shizuoka-Tokyo untuk pergi dan pulang bekerja.

Penulis             : Mengapa tidak pindah ke Tokyo?
Tanaka            : Saya tidak begitu nyaman tinggal di hiruk pikuk kota besar

Penulis             : Oh……..
  

Uffhh…….. Untungnya saya masih bisa untuk tidak memberi kesempatan Pak Tanaka bertanya bagaimana kondisi angkutan massal dan kondisi lalu lintas di negara saya dengan terus bertanya topik2 yang dia senangi. Tapi dari perbincangan tersebut, saya dapat menilai dia sangat enjoy dan nyaman dengan fasilitas angkutan massal negaranya.

Jarak antara kota Shizuoka dengan kota Tokyo adalah 180.2Km, dengan menggunakan Shinkansen (kereta peluru) hanya memakan waktu tidak lebih dari 1 jam perjalanan. Bayangkan, berapa efisiensi waktu yang dapat diperoleh untuk suatu urusan yang cepat. Harga tiket kereta peluru ini adalah ¥6.180 dengan nilai tukar rupiah Rp.100 per ¥1  maka bila dirupiahkan menjadi Rp.618.000,- untuk sekali jalan. Memang besar, tapi sebanding dengan kecepatan waktu, kualitas dan pelayanan yang di dapat. Frekuensi pelayanannya juga sampai 6 kereta/jam dengan kecepatan diatas 300Km/jam (tergantung jenis kereta).

Tapi, kualitas dan pelayanan, bukan hanya monopoli dari kereta peluru yang mahal. Untuk orang yang tidak begitu perlu mengejar waktu dapat menggunakan kereta biasa di jalur utama atau orang jepang sering menyebutnya Futsu Densha. Denga tujuan yang sama Shizuoka-Tokyo harga tiketnya kira-kira setengah dari kereta peluru dengan memakan waktu hampir 3 jam.

Karena mereka sangat menghargai betapa susahnya mencari uang, harga tiket untuk setiap tujuan berbeda, tidak dipukul rata menurut tujuan akhir perjalanan kereta. Begitupun dengan uang kembali yang terdapat di mesin-mesin ticket, penumpang akan mendapatkan kembalian berupa uang sesuai dengan harga ticket, tidak ada pembulatan keatas atau kebawah.

Bukan itu saja, karena pelayanan transportasi massal ini sangat nyaman untuk para penggunanya (bersih dengan bangku empuk, ber AC, tidak ada pengamen), maka tak heran bila sebagian besar penduduk jepang menggunakan transportasi ini untuk pergi pulang kerja walaupun rata-rata mereka mempunyai kendaraan pribadi (mobil). Jadwal yang tepat waktu dan terintegrasi dengan jadwal kereta local dan jadwal bus yang berada di hampir setiap stasiun merupakan alasan utama penduduknya menggunakan pelayanan transportasi missal ini. Lihat alamat webnya www.japanrail.com, dengan desain bilingualnya penumpang jepang atau internasional akan mendapatkan informasi yang akurat.

Satu hal lagi, karena di kenal dengan ketepatan waktunya, bukan berarti segala masalah diterjang untuk itu. Pelayanan transportasi ini akan dihentikan oleh pengelolanya (JR) bila keadaan atau cuaca yang tidak memungkinkan untuk beroperasi, seperti terjadi topan, kecelakaan dll. Bagaimana dengan penumpang? Biasanya penumpang langsung switch ke bus (gratis) untuk mencapai tujuannya dan tentunya dengan berbekal surat resmi permohonan maaf karena ganguan kereta api dari pengelola kereta untuk disampaikan kepada perusahaan karena membuat karyawannya datang telat. Wow… betapa sebuah pelayanan yang memuaskan.
 
Tapi, bukan berarti semua pelayanan yang telah di disain untuk selalu yang terbaik ini lepas dari kesalahan. Pada tahun 2005, 26 orang eksekutif perusahaan kereta Jepang (JR) dikenakan sangsi pengurangan gaji sebesar 30% selama lebih dari 3 bulan sebagai tanggung jawab dari kecelakaan di kota Amagasaki, yang mengakibatkan 107 orang meninggal dan 567 orang luka-luka. Dan setelah mengucapkan permohonan maaf terhadap keluarga korban, sang presiden direktur menyatakan, ini bukan kesalahan masinis atau  supervisornya, tapi kesalahan dari manajemen. Begitu besar tanggung jawab mereka  terhadap suatu kesalahan yang mengakibatkan hilangnya nyawa.

Sebuah sistem pelayanan yang baik dari negara untuk rakyatnya. Bagaimana dengan sistem transportasi massal negara saya setelah kembali dari negara jepang dan beberapa tahun menetap di jakarta? Kereta api dan bus, berubah seh tapi masih jauh dari kata standar untuk sebuah kota metropolitan yang membutuhkan akses cepat dengan tingkat kenyamanan dan keamanan yang standar pula.


(Yang masih berharap Indonesia menjadi bangsa yang  maju dan lebih beretika)

Gambar: dari berbagai sumber