Thursday, January 3, 2013

Apa kabar kereta apiku....?


Suatu perbincangan dengan seseorang warga jepang (sebut saja pak Tanaka) dalam suatu pertemuan di kota shizuoka, Jepang tahun 1999:

Penulis             : Pak Tanaka bekerja dimana?
Tanaka            : Oh… Saya bekerja di salah satu organisasi UN (PBB) di Tokyo.

Penulis             : Sedang liburan di kota Shizuoka ini?
Tanaka            : Oh Tidak….. Saya memang tinggal disini

Penulis             : Setiap hari pergi pulang Shizuoka-Tokyo untuk bekerja?
Tanaka            : Ya, setiap hari saya memakai Shinkansen Shizuoka-Tokyo untuk pergi dan pulang bekerja.

Penulis             : Mengapa tidak pindah ke Tokyo?
Tanaka            : Saya tidak begitu nyaman tinggal di hiruk pikuk kota besar

Penulis             : Oh……..
  

Uffhh…….. Untungnya saya masih bisa untuk tidak memberi kesempatan Pak Tanaka bertanya bagaimana kondisi angkutan massal dan kondisi lalu lintas di negara saya dengan terus bertanya topik2 yang dia senangi. Tapi dari perbincangan tersebut, saya dapat menilai dia sangat enjoy dan nyaman dengan fasilitas angkutan massal negaranya.

Jarak antara kota Shizuoka dengan kota Tokyo adalah 180.2Km, dengan menggunakan Shinkansen (kereta peluru) hanya memakan waktu tidak lebih dari 1 jam perjalanan. Bayangkan, berapa efisiensi waktu yang dapat diperoleh untuk suatu urusan yang cepat. Harga tiket kereta peluru ini adalah ¥6.180 dengan nilai tukar rupiah Rp.100 per ¥1  maka bila dirupiahkan menjadi Rp.618.000,- untuk sekali jalan. Memang besar, tapi sebanding dengan kecepatan waktu, kualitas dan pelayanan yang di dapat. Frekuensi pelayanannya juga sampai 6 kereta/jam dengan kecepatan diatas 300Km/jam (tergantung jenis kereta).

Tapi, kualitas dan pelayanan, bukan hanya monopoli dari kereta peluru yang mahal. Untuk orang yang tidak begitu perlu mengejar waktu dapat menggunakan kereta biasa di jalur utama atau orang jepang sering menyebutnya Futsu Densha. Denga tujuan yang sama Shizuoka-Tokyo harga tiketnya kira-kira setengah dari kereta peluru dengan memakan waktu hampir 3 jam.

Karena mereka sangat menghargai betapa susahnya mencari uang, harga tiket untuk setiap tujuan berbeda, tidak dipukul rata menurut tujuan akhir perjalanan kereta. Begitupun dengan uang kembali yang terdapat di mesin-mesin ticket, penumpang akan mendapatkan kembalian berupa uang sesuai dengan harga ticket, tidak ada pembulatan keatas atau kebawah.

Bukan itu saja, karena pelayanan transportasi massal ini sangat nyaman untuk para penggunanya (bersih dengan bangku empuk, ber AC, tidak ada pengamen), maka tak heran bila sebagian besar penduduk jepang menggunakan transportasi ini untuk pergi pulang kerja walaupun rata-rata mereka mempunyai kendaraan pribadi (mobil). Jadwal yang tepat waktu dan terintegrasi dengan jadwal kereta local dan jadwal bus yang berada di hampir setiap stasiun merupakan alasan utama penduduknya menggunakan pelayanan transportasi missal ini. Lihat alamat webnya www.japanrail.com, dengan desain bilingualnya penumpang jepang atau internasional akan mendapatkan informasi yang akurat.

Satu hal lagi, karena di kenal dengan ketepatan waktunya, bukan berarti segala masalah diterjang untuk itu. Pelayanan transportasi ini akan dihentikan oleh pengelolanya (JR) bila keadaan atau cuaca yang tidak memungkinkan untuk beroperasi, seperti terjadi topan, kecelakaan dll. Bagaimana dengan penumpang? Biasanya penumpang langsung switch ke bus (gratis) untuk mencapai tujuannya dan tentunya dengan berbekal surat resmi permohonan maaf karena ganguan kereta api dari pengelola kereta untuk disampaikan kepada perusahaan karena membuat karyawannya datang telat. Wow… betapa sebuah pelayanan yang memuaskan.
 
Tapi, bukan berarti semua pelayanan yang telah di disain untuk selalu yang terbaik ini lepas dari kesalahan. Pada tahun 2005, 26 orang eksekutif perusahaan kereta Jepang (JR) dikenakan sangsi pengurangan gaji sebesar 30% selama lebih dari 3 bulan sebagai tanggung jawab dari kecelakaan di kota Amagasaki, yang mengakibatkan 107 orang meninggal dan 567 orang luka-luka. Dan setelah mengucapkan permohonan maaf terhadap keluarga korban, sang presiden direktur menyatakan, ini bukan kesalahan masinis atau  supervisornya, tapi kesalahan dari manajemen. Begitu besar tanggung jawab mereka  terhadap suatu kesalahan yang mengakibatkan hilangnya nyawa.

Sebuah sistem pelayanan yang baik dari negara untuk rakyatnya. Bagaimana dengan sistem transportasi massal negara saya setelah kembali dari negara jepang dan beberapa tahun menetap di jakarta? Kereta api dan bus, berubah seh tapi masih jauh dari kata standar untuk sebuah kota metropolitan yang membutuhkan akses cepat dengan tingkat kenyamanan dan keamanan yang standar pula.


(Yang masih berharap Indonesia menjadi bangsa yang  maju dan lebih beretika)

Gambar: dari berbagai sumber

No comments:

Post a Comment