Suatu
perbincangan dengan seseorang warga jepang (sebut saja pak Tanaka) dalam suatu
pertemuan di kota shizuoka, Jepang tahun 1999:
Penulis : Pak Tanaka bekerja dimana?
Tanaka : Oh… Saya bekerja di salah satu
organisasi UN (PBB) di Tokyo.
Penulis : Sedang liburan di kota Shizuoka
ini?
Tanaka : Oh Tidak….. Saya memang tinggal
disini
Penulis : Setiap hari pergi pulang
Shizuoka-Tokyo untuk bekerja?
Tanaka : Ya, setiap hari saya memakai
Shinkansen Shizuoka-Tokyo untuk pergi dan pulang bekerja.
Penulis : Mengapa tidak pindah ke Tokyo?
Tanaka : Saya tidak begitu nyaman tinggal di
hiruk pikuk kota besar
Penulis : Oh……..
Uffhh……..
Untungnya saya masih bisa untuk tidak memberi kesempatan Pak Tanaka bertanya
bagaimana kondisi angkutan massal dan kondisi lalu lintas di negara saya dengan
terus bertanya topik2 yang dia senangi. Tapi dari perbincangan tersebut, saya
dapat menilai dia sangat enjoy dan nyaman dengan fasilitas angkutan massal
negaranya.
Jarak
antara kota Shizuoka dengan kota Tokyo adalah 180.2Km, dengan menggunakan Shinkansen
(kereta peluru) hanya memakan waktu tidak lebih dari 1 jam perjalanan. Bayangkan,
berapa efisiensi waktu yang dapat diperoleh untuk suatu urusan yang cepat.
Harga tiket kereta peluru ini adalah ¥6.180 dengan nilai tukar rupiah Rp.100
per ¥1 maka bila dirupiahkan menjadi Rp.618.000,- untuk sekali jalan.
Memang besar, tapi sebanding dengan kecepatan waktu, kualitas dan pelayanan yang
di dapat. Frekuensi pelayanannya juga sampai 6 kereta/jam dengan kecepatan
diatas 300Km/jam (tergantung jenis kereta).
Tapi,
kualitas dan pelayanan, bukan hanya monopoli dari kereta peluru yang mahal.
Untuk orang yang tidak begitu perlu mengejar waktu dapat menggunakan kereta
biasa di jalur utama atau orang jepang sering menyebutnya Futsu Densha. Denga
tujuan yang sama Shizuoka-Tokyo harga tiketnya kira-kira setengah dari kereta
peluru dengan memakan waktu hampir 3 jam.
Karena
mereka sangat menghargai betapa susahnya mencari uang, harga tiket untuk setiap
tujuan berbeda, tidak dipukul rata menurut tujuan akhir perjalanan kereta.
Begitupun dengan uang kembali yang terdapat di mesin-mesin ticket, penumpang
akan mendapatkan kembalian berupa uang sesuai dengan harga ticket, tidak ada
pembulatan keatas atau kebawah.
Bukan
itu saja, karena pelayanan transportasi massal ini sangat nyaman untuk para penggunanya
(bersih dengan bangku empuk, ber AC, tidak ada pengamen), maka tak heran bila
sebagian besar penduduk jepang menggunakan transportasi ini untuk pergi pulang
kerja walaupun rata-rata mereka mempunyai kendaraan pribadi (mobil). Jadwal
yang tepat waktu dan terintegrasi dengan jadwal kereta local dan jadwal bus
yang berada di hampir setiap stasiun merupakan alasan utama penduduknya
menggunakan pelayanan transportasi missal ini. Lihat alamat webnya www.japanrail.com, dengan desain
bilingualnya penumpang jepang atau internasional akan mendapatkan informasi
yang akurat.
Satu
hal lagi, karena di kenal dengan ketepatan waktunya, bukan berarti segala
masalah diterjang untuk itu. Pelayanan transportasi ini akan dihentikan oleh
pengelolanya (JR) bila keadaan atau cuaca yang tidak memungkinkan untuk
beroperasi, seperti terjadi topan, kecelakaan dll. Bagaimana dengan penumpang?
Biasanya penumpang langsung switch ke bus (gratis) untuk mencapai tujuannya dan
tentunya dengan berbekal surat resmi permohonan maaf karena ganguan kereta api
dari pengelola kereta untuk disampaikan kepada perusahaan karena membuat
karyawannya datang telat. Wow… betapa sebuah pelayanan yang memuaskan.
Tapi,
bukan berarti semua pelayanan yang telah di disain untuk selalu yang terbaik
ini lepas dari kesalahan. Pada tahun 2005, 26 orang eksekutif perusahaan
kereta Jepang (JR) dikenakan sangsi pengurangan gaji sebesar 30% selama lebih
dari 3 bulan sebagai tanggung jawab dari kecelakaan di kota Amagasaki, yang
mengakibatkan 107 orang meninggal dan 567 orang luka-luka. Dan setelah
mengucapkan permohonan maaf terhadap keluarga korban, sang presiden direktur
menyatakan, ini bukan kesalahan masinis atau supervisornya, tapi
kesalahan dari manajemen. Begitu besar tanggung jawab mereka terhadap
suatu kesalahan yang mengakibatkan hilangnya nyawa.
Sebuah
sistem pelayanan yang baik dari negara untuk rakyatnya. Bagaimana dengan sistem
transportasi massal negara saya setelah kembali dari negara jepang dan beberapa tahun menetap di jakarta?
Kereta api dan bus, berubah seh tapi masih jauh dari kata standar untuk sebuah kota
metropolitan yang membutuhkan akses cepat dengan tingkat kenyamanan dan
keamanan yang standar pula.
(Yang masih berharap
Indonesia menjadi bangsa yang maju dan lebih beretika)
Gambar: dari berbagai
sumber





No comments:
Post a Comment